Posts

Showing posts from December, 2020

Jenderal Achmad Yani

 Jenderal Achmad Yani Ahmad Yani dilahirkan tanggal 19 Juni 1922 di Jenar, Purworejo, Jawa Tengah. Ayahnya bernama Sarjo bin Saharjo yang juga dikenal dengan nama M. Wongsorejo, sedangkan ibunya bernama Murtini. Yani mempunyai dua orang adik, yakni Asmi dan Asiha. Nama kecil sebenarnya Achmad. Kata Yani ditambahkan oleh Hulstyn, seorang Belanda yang menjadi majikan ayahnya. Berkat bantuan Hulstyn pula Ahmad Yani berhasil mengikuti pendidikan pada HIS (Hollands Inlandse School, Sekolah Dasar sekarang). Mula-mula ia bersekolah di Purworejo, kemudian pindah ke Magelang, dan akhirnya menyelesaikan HIS di Bogor pada tahun 1935. Di kota ini pula ia mengikuti pendidikan di MULO (Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs, Sekolah Menengah Pertama sekarang ) bagian B yang diselesaikannya dalam tahun 1938. Ia lulus dengan nilai terbaik dan hal itu memungkinkannya untuk melanjutkan pelajarannya pada AMS (Algemeene Middelbare Scchool, Sekolah Menengah Tingkat Atas sekarang) bagian B di Jakarta. Yani tidak

Dr. Muwardi

 Dr. Muwardi DR Muwardi bwMuwardi dilahirkan pada tanggal 30 Januari 1907 sebagai putra ketujuh dari 11 orang putra-putri M. Sastrowardoyo, Mantri guru Jakenan, Pati, Jawa Tengah. Ayahnya mencita-citakan agar putra-putrinya menjadi orang pandai dan berkedudukan melebihi sang Ayah. Maka setelah tamat ELS (Europeesche Lagere School, Sekolah rendah berbahasa Belanda), Muwardi dikirim ke Jakarta untuk meneruskan pelajarannya di Sekolah Dokter STOVIA. Usaha orang tuanya itu tidak sia-sia, Muwardi lulus dari STOVIA dan menjadi dokter pada tanggal 1 Desember 1933. Sewaktu belajar di STOVIA Muwardi menunjukan perhatiannya yang besar kepada pergerakan pemuda. la seorang Jong Java dan giat didalam kepanduanya. Peleburan Jong Java bersama dengan perkumpulan-perkumpulan pemuda kedaerah lainnya, Jong Sumatra, Jong Ambon, Jong Minahasa, Sekar Rukun (Sunda), Sangkoro Mudo (Jawa) dll. kedalam Indonesia muda yang berdasar kebangsaan Indonesia, berakibat kepanduan Jong Java menjelma menjadi Pandu Kebang

Dr. Sahardjo S.H.

 Dr. Sahardjo S.H. DR Sahardjo bwSahardjo yang penampilannya serba halus, tenang dan sederhana, dilahirkan di Sala, Ibukota kerajaan Surakarta, Jawa Tengah, pada tanggal 26 Juni 1909. la adalah putra sulung Raden Ngabei Sastroprayitno, seorang pegawai keraton Surakarta yang lazimnyadisebut abdi dalem (abdi = sahaya; dalem = paduka raja). Karena kedudukan ayahnya yang cukup tinggi, maka ia dapat bersekolah di ELS (Europese Lagere School = SD berbahasa Belanda) yang hanya menerima sebagai murid-muridnya anak-anak Belanda dan anak-anak pegawai tinggi Pemerintah Hindia Belanda dan Pemerintah Kerajaan Jawa. Sahardjo tamat pada ELS pada tahun 1922 sesuai dengan jadwal, tanpa berhenti ditengah jalan. Setelah tamat ELS ia meneruskan ke sekolah dokter STOVIAdi Jakarta, tetapi hampir setahun di sekolah dokter, ia merasa tidak sesuai untuk menjadi dokter. Ia tidak tahan melihat darah. Hal ini memang ternyata kemudian waktu ia menyaksikan putranya dikhitan. Meskipun tidak melihat darah pada khitan

Sukardjo Wirjopranoto

Sukardjo Wirjopranoto bwSukardjo adalah putra Bapak Wiryodiharjo yang bekerja pada Jawatan Kereta Api pada zaman Hindia Belanda. Ibunya berasal dari Purwokerto, keturunan seorang alim ulama, bernama Kyai Asmadi. Sukardjo dilahirkan di Desa Kasugihan kurang lebih 20 km dari Cilacap, Jawa Tengah, pada tanggal 5 Juni 1903. Ia bersaudara berjumlah tujuh orang dan ia adalah anak keenam. Ketika Sukardjo berumur tiga tahun, ayahnya meninggal dunia. Oleh karena itu seluruh tanggungjawab untuk membesarkan putra-putrinya terletak pada Ibu Wiryodiharjo. Ia adalah seorang ibu yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. cermat, teguh dan bercita-cita tinggi, terutama dalam memajukan dan mencerdaskan putra-putrinya. Dengan tekun beliau mengatur rumah tangga, memanfaatkan harta peninggalan suaminya berupa ladang dan sawah yang tidak pula besar jumlahnya. Kakak-kakak Sukardjo mengecap pendidikan HIS, sedangkan Sukardjo yang paling dekat dengan ibunya, sebab adiknya meninggal setelah dilahirkan. Berbeda

Martha Christina Tiahahu

Martha Christina Tijahahu bwTahun 1817 penduduk Maluku di bawah pimpinan Pattimura mengangkat senjata melawan penjajahan Belanda. Perlawanan berkobar pada mulanya di Saparua, kemudian meluas di pulau-pulau lain. Salah satu di antaranya ialah pulau Nusalaut. Pulau ini terletak di sebelah tenggara pulau Saparua, hanya dipisahkan oleh suatu selat. Nusalaut juga disebut Nusahalowano yang berarti ”Pulau Emas”. Disebut demikian bukanlah karena di Nusalaut ada tambang emas, namun hasil cengkihnya terkenal bermutu tinggi dan berjumlah besar hingga dapat mengalirkan ”emas” ke kantong rakyat. Karena cengkihnya dimonopoli Belanda, maka akhirnya rakyat Nusalaut melarat dan tertekan hidupnya. Nusalaut memang dipandang penting baik oleh Belanda hingga didirikannya benteng di sana, maupun oleh kaum pemberontak yang berpusat di Saparua. Anthone Rebhok, pembantu utama Kapitan Pattimura ditugaskan khusus membina semangat rakyat Nusalaut. Raja Abubu, yaitu Paulus Tiahahu diangkat oleh rakyat sebagai pemi

Nyi Ageng Serang

 Nyi Ageng Serang Nyi Ageng Serang bwRaden Adjeng Kustiyah Wujaningsih Retno Edi yang disebut Puteri Serang atau Nyi Ageng Serang tetap terpuji sepanjang masa sebagai wanita pejuang dan pejuang wanita. Pemerintah RI dengan SK Presiden No. 084/ TK/Tahun 1974 tanggal 13 Desember 1974 menganugerahi Nyi Ageng Serang gelar Pahlawan Nasional. Siapakah Nyi Ageng Serang itu dan apa jasa pengabdiannya dalam sejarah Indonesia? Raden Adjeng Wulaningsih (juga disebut Wulangsih) Retno Edi adalah keturunan ke-9 Waliullah Sunan Kalijaga yang dimakamkan di Kadilangu, Demak, Jawa Tengah, dari isterinya puteri Waliullah Sunan Gunungjati di Cirebon. Ayah Nyi Ageng Serang ialah Penembahan Notoprodjo yang kemudian terkenal sebagai Penembahan Serang. Beliau mempunyai dua orang anak. Yang tua laki-laki disebut Notoprodjo Muda dan yang kedua wanita Raden Adjeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi yang lahir pada tahun 1752. Serang sebuah desa terpencil, kurang lebih 40 km di sebelah utara Sala dan sebelah barat la

Otto Iskandar Dinata

 Otto Iskandar Dinata Otto Iskandardinata bwSejarah pergerakan nasional Indonesia mencatatbanyak kaumpendidik, guru, menjadi pemimpin rakya. Salah seorang diantaranya adalah Otto Iskandar Dinata. la dilahirkan pada tanggal 31 Maret 1897 di Bojongsoang, Dayeuhkolot, Bandung. Ayahnya bernama Nataatmadja yang setelah menunaikan ibadah haji berganti nama menjadi Raden Haji Adam Rahmat, ibunya bemama Siti Hidayah. Otto adalah anak bungsu dari tiga orang bersaudara, semuanya laki-laki. Setelah menamatkan HIS (Hollandsch Inlandse School) di Bandung, Otto melanjutkan pelajarannya ke Sekolah Guru, juga di Bandung. Sesudah itu memasuki HKS (Hoogere Kweekschool – Sekolah Guru Atasj di Purworejo Jawa Tengah. Setelah tamat HKS, Otto bekerja sebagai guru HIS di Banjarnegara, Jawa Tengah, hanya satu tahun ia bertugas di tempat ini. Tahun 1921 iadipindahkan ke Bandung dan tiga tahun kemudian di pindahkan lagi ke Pekalongan, Jawa Tengah. Dari sini mulailah kisah lain dalam kehidupannya. Namanya untuk s